Dermayu Post – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah pada perdagangan pasar spot pagi ini, Jumat (27/3/2026). Sentimen negatif dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.
Berdasarkan data perdagangan spot, rupiah melemah 0,12% ke level Rp16.924/US$ pada pembukaan pasar. Posisi ini menunjukkan tren pelemahan yang masih berlanjut seiring dengan kekhawatiran investor terhadap eskalasi perang yang belum mereda di kawasan produsen energi utama dunia.
Rupiah tidak sendirian dalam menghadapi tekanan greenback. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak di zona merah. Ringgit Malaysia mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 0,32%, disusul oleh peso Filipina (0,22%), baht Thailand (0,21%), dolar Taiwan (0,11%), dan dolar Hong Kong (0,05%).
Para analis menilai bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik memberikan beban tambahan bagi negara-negara importir minyak di Asia, yang pada gilirannya menekan nilai tukar mata uang domestik mereka.
Di tengah aksi jual di pasar Asia, beberapa mata uang berhasil mencatatkan penguatan tipis. Yen Jepang memimpin pembalikan arah (rebound) dengan kenaikan 0,2%. Langkah ini diikuti oleh won Korea Selatan yang menguat 0,12%.
Selain itu, yuan offshore juga naik tipis 0,04%, sementara yuan China dan dolar Singapura masing-masing menguat terbatas sebesar 0,02%.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati perkembangan lebih lanjut di Timur Tengah serta dampaknya terhadap rantai pasok energi global. Jika harga minyak terus merangkak naik, ruang bagi rupiah untuk menguat dalam jangka pendek diprediksi akan terbatas, mengingat tekanan inflasi dari sektor energi (imported inflation) yang membayangi ekonomi domestik.