Pemerintah Indonesia resmi memperkuat kemitraan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) melalui penandatanganan perjanjian perdagangan timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Jumat (20/2/2026).
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah komitmen Indonesia untuk mengimpor minyak dan gas bumi (migas) dari AS senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253,3 triliun.
Proses penandatanganan dokumen penting ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Perwakilan Dagang AS (United States Trade Representative/USTR) Jamieson Greer.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus menjamin ketahanan energi nasional.Berdasarkan dokumen yang dirilis, total nilai impor senilai US$15 miliar tersebut terbagi ke dalam tiga komoditas utama energi, yaitu:
Bahan Bakar Minyak (BBM): Senilai US$7 miliar (sekitar Rp118,26 triliun).
Minyak Mentah (Crude Oil): Senilai US$4,5 miliar (sekitar Rp76,02 triliun).
LPG (Liquified Petroleum Gas): Senilai US$3,5 miliar (sekitar Rp59,13 triliun).
Sebagai imbal balik dari komitmen impor energi tersebut, Indonesia mendapatkan keuntungan strategis berupa pembebasan tarif masuk untuk ribuan produk ekspor ke pasar AS.
Pembebasan Tarif: Sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia kini dikenakan tarif 0%. Produk tersebut mencakup minyak sawit (CPO), kopi, kakao, rempah-rempah, karet, hingga komponen elektronik dan semikonduktor.
Sektor Tekstil: AS juga menyepakati mekanisme kuota khusus bagi produk tekstil dan garmen Indonesia untuk menikmati tarif 0%, yang diprediksi akan memberikan dampak positif bagi jutaan tenaga kerja di sektor tersebut.
Tarif Umum: Bagi produk di luar daftar tersebut, AS menetapkan tarif resiprokal sebesar 19%, jauh lebih rendah dari ancaman tarif sebelumnya yang sempat mencapai 32%.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa perjanjian ini merupakan solusi “win-win” untuk kedua negara.
Di satu sisi, Indonesia mendapatkan kepastian pasokan energi dan akses pasar yang lebih luas untuk produk industri serta pertanian.
Di sisi lain, AS berhasil memperkecil defisit perdagangannya dengan Indonesia melalui pembelian energi dan produk pertanian seperti gandum dan kedelai.”Perjanjian ini murni fokus pada kerja sama perdagangan dan ekonomi.
Kita memberikan akses pasar yang adil, dan sebagai gantinya, produk-produk unggulan kita bisa masuk ke AS tanpa hambatan tarif yang memberatkan,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual.Selain migas, kesepakatan ini juga mencakup komitmen pengadaan pesawat komersial Boeing senilai US$13,5 miliar dan kerja sama di sektor mineral kritis serta teknologi digital. Red