Beranda Ekonomi dan Bisnis Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

Dermayu Post – Ketegangan geopolitik yang kembali membara di kawasan Timur Tengah memicu gelombang kekhawatiran baru di pasar energi global. Ancaman gangguan pasokan di salah satu wilayah penghasil minyak terbesar dunia ini telah mendorong harga minyak mentah melonjak tajam hingga mencapai level tertingginya dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics pada Minggu (29/3/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat melonjak 5,46 persen ke posisi 99,64 dollar AS per barel. Lonjakan ini mencerminkan tren bullish yang sangat kuat, di mana secara bulanan harga WTI telah melambung 39,88 persen dan secara tahunan naik signifikan sebesar 43,66 persen.

Dalam dinamika perdagangan yang sangat volatil, harga WTI bahkan sempat menembus level psikologis 100,04 dollar AS per barel di tengah sesi perdagangan sebelum akhirnya mengalami koreksi tipis menjelang penutupan.

Kenaikan serupa juga terjadi pada patokan global, minyak Brent. Harga minyak Brent menguat 4,22 persen ke level 112,57 dollar AS per barel. Angka ini mencatatkan rekor pertumbuhan bulanan sebesar 44,80 persen dan lonjakan tahunan yang mencapai 54,71 persen.

Posisi harga saat ini merupakan yang tertinggi sejak 4 Juli 2022. Kala itu, minyak Brent sempat menyentuh angka 113,5 dollar AS per barel. Pencapaian ini membawa harga energi dunia mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir, sebuah situasi yang memicu alarm bagi stabilitas ekonomi global dan inflasi di berbagai negara.

Para analis pasar memperingatkan bahwa selama ketidakpastian politik di Timur Tengah berlanjut, risiko disrupsi distribusi melalui jalur-jalur krusial tetap tinggi. Hal ini kemungkinan besar akan terus memberikan tekanan ke atas pada harga energi di pasar internasional.

Pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Level 100 dollar per barel bukan lagi sekadar angka psikologis, melainkan realitas baru yang harus dihadapi industri energi jika konflik tidak segera mereda.

Situasi ini diperkirakan akan berdampak luas pada biaya logistik dan harga BBM di tingkat konsumen, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat secara global.