INDRAMAYU, dermayupost.com – Gelombang protes terhadap kualitas program Satuan Pelayanan Pemberian Gizi (SPPG) di Kecamatan Sindang mencapai puncaknya. Setelah sebelumnya dikeluhkan karena porsi yang minim, kini jagat media sosial Facebook dihebohkan dengan unggahan foto dan video yang menunjukkan adanya ulat pada menu makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat. Sabtu (14/03/2026).
Temuan ini memicu kemarahan publik yang menilai pengelola SPPG di salah satu titik di wilayah Sindang tersebut telah mengabaikan standar higienitas dan Standard Operating Procedure (SOP) kesehatan pangan.
Viral dan Menjijikkan! !
Unggahan yang viral sejak beberapa jam lalu itu memperlihatkan ulat yang masih bergerak di sela-sela sayuran dalam kotak makan program pemerintah tersebut. Netizen dan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mengecam keras kejadian ini karena dinilai sangat membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil yang menjadi sasaran utama program.
“Ini sangat keterlaluan. Bukannya memberikan gizi, ini malah bisa jadi sumber penyakit. Kami bayar pajak untuk program ini, tapi pelaksanaannya asal-asalan,” tulis salah satu akun dalam kolom komentar grup diskusi Indramayu.
Tuntutan Penutupan Total dan Jalur Hukum
Merespons temuan yang dianggap fatal tersebut, sejumlah tokoh masyarakat dan penerima manfaat mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera turun tangan. Mereka menuntut tindakan tegas berupa, Mencabut izin operasional unit SPPG terkait di Kecamatan Sindang karena dianggap gagal menjalankan mandat pelayanan publik. Meminta BGN melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh vendor dan dapur SPPG di wilayah Indramayu untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang serta masyarakat mendesak agar pihak pengelola atau kontraktor yang bertanggung jawab diproses secara hukum atas dugaan kelalaian yang mengancam keselamatan konsumen.
Pelanggaran SOP dan Higienitas
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa unit SPPG tersebut tidak memiliki standar sanitasi yang layak. Selain isu ulat, ketiadaan sertifikasi laik higiene dan pengelolaan limbah yang buruk sebelumnya juga sempat dipertanyakan oleh berbagai pihak.
“Kami tidak butuh permintaan maaf, kami butuh pertanggungjawaban. Kami minta BGN bertindak cepat sebelum ada korban keracunan massal,” tegas salah seorang perwakilan warga Sindang saat dikonfirmasi media.
Hingga saat ini, pihak pengelola unit SPPG di Sindang belum memberikan keterangan resmi terkait temuan ulat tersebut, sementara desakan di media sosial terus meluas dengan tagar tuntutan transparansi anggaran gizi.