Dermayu Post – Suasana di pusat pemerintahan Kabupaten Indramayu mencekam pada Kamis (02/04/2026) siang. Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) di depan Alun-alun Pendopo Indramayu berujung ricuh dan menyebabkan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan parah.Massa yang terdiri dari nelayan dan petambak mulai memadati kawasan Alun-alun sejak pukul 09.00 WIB. Awalnya, aksi ini direncanakan sebagai demonstrasi damai untuk menyuarakan aspirasi penolakan terhadap Proyek Revitalisasi Tambak Pantura.
Namun, situasi mulai memanas menjelang siang hari saat perwakilan massa menuntut untuk bertemu langsung dengan pengambil kebijakan. Ketegangan memuncak hingga terjadi aksi saling dorong antara demonstran dan petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang Pendopo.
Aksi yang semula tertib berubah menjadi anarkis. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah fasilitas umum di area Alun-alun menjadi sasaran amukan, di antaranya:
• Pagar Pembatas: Robohnya sebagian pagar besi di area depan Pendopo.
• Pot Bunga & Ornamen Taman: Puluhan pot bunga pecah berserakan di sepanjang trotoar.
• Papan Informasi: Beberapa papan informasi publik dan lampu taman dilaporkan rusak akibat lemparan benda tumpul.

Aspirasi utama yang dibawa oleh KOMPI adalah penghentian proyek revitalisasi tambak di wilayah pesisir utara (Pantura) Indramayu. Pihak koalisi menilai proyek tersebut mengancam mata pencaharian warga lokal dan berpotensi merusak ekosistem mangrove yang menjadi benteng alami pesisir.
“Kami hanya ingin kepastian hidup. Revitalisasi ini justru membuat kami terpinggirkan dari lahan yang sudah kami garap turun-temurun,” ujar salah satu koordinator lapangan di tengah aksi.
Pihak kepolisian segera menambah personel untuk mengendalikan situasi dan memukul mundur massa dari objek vital daerah.
Pemerintah Kabupaten Indramayu sangat menyayangkan kejadian ini. Meski menghargai kebebasan berpendapat, tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik yang dibangun menggunakan uang rakyat sangat tidak dibenarkan.