Beranda Gaya Hidup dan Budaya Bambang Mujiarto, S.T Gelar Road Show Dialog Budaya Ki Gede Megu Dan Misteri Sumur Kejayan

Bambang Mujiarto, S.T Gelar Road Show Dialog Budaya Ki Gede Megu Dan Misteri Sumur Kejayan

Bambang Mujiarto, S.T Gelar Road Show Dialog Budaya Ki Gede Megu Dan Misteri Sumur Kejayan

CIREBON, DermayuPost.com – Pembangunan Daerah tidak dapat dipisahkan dari perencanaan pembangunan berkelanjutan Basis budaya. Hal itu disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Bambang Mujiarto.ST di saat kunjungan kerja di desa Megu cilik, kecamatan weru, Kabupaten cirebon.

Saat melakukan kunjungan kerja Gelar road show ngaji Budaya, Bambang Mujiarto, S.T, mengusut tuntas sejarah tradisi budaya sumur kejayaan dengan tema ” Ki Gede Megu Dan Misteri Sumur Kejayan. Turut hadir dalam acara tersebut Budayawan, Pemdes megu cilik serta masyarakat sekitar.

Menurut Bambang Mujiarto, S.T, Cirebon memiliki Nilai Historis dan peradaban yang sangat kuat, sehingga perlu di kaji secara mendalam.

”Cirebon memiliki Nilai Histori dan Tata Nilai Budaya yang Khas memiliki Identitas tersendiri, baik dari sisi Sejarah, Peradaban maupun kehidupan Sosial masyarakatnya”, Ujar Bambang.

Bambang juga menyoroti posisi Cirebon memiliki keunikan yang beraneka ragam yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat Dan Jawa Tengah. Kondisi tersebut menjadikan Cirebon sebagai wilayah yang strategis dengan perkembangan Budaya yang berbeda di banding Daerah lain di Jawa Barat.

Bambang pun menilai, sudah seharusnya bahwa pembahasan pembangunan di jawa Barat di satukan dalam satu kerangka besar kebudayaan.

“Pembangunan Daerah yang bekarakter dan berkelanjutan dapat menjadi Fondasi dalam merancang konsep pembangunan Daerah. Oleh karenanya, berbagai unsur turut di libatkan dari pelaku Seni dan Budaya, masyarakat ,hingga perangkat Dinas terkait,” tegasnya.

Dikatakan Budayawan, khususnya terkait kawasan Megu, adanya Sumur Kejayan yang di kenal berada di masjid keramat Megu, memiliki berbagai Versi sejarah dalam Jejak Sejarah yang ada.

“Secara keseluruhan, Dialog Budaya menjadi jembatan untuk merawat kebersamaan dan memperkuat persatuan,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir dalam kegiatan road show ngaji Budaya.

Lebih lanjut, konon Masjid Kramat Megu memiliki sumur ajaib yang airnya diyakini ampuh untuk berbagai pengobatan. Ini adalah salah satu warisan dari kekayaan spiritual di Cirebon. Masjid Kramat Megu salah satu masjid kuno yang diperkirakan dibangun tahun 900 Masehi.

Secara garis besar, Desa Megu yang masuk dalam Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon ini memiliki tiga sumur ghaib, yakni Sumur Masjid Kramat yang sampai saat ini ada di Desa Megu Gede, ada yang bernama Sumur Keton dan satu lagi Sumur Ghaib, yang artinya wujud dari sumur tersebut tidak terlihat dan tidak dapat ditentukan.

Ki Gede Megu (atau Ki Buyut Atas Angin) adalah utusan Pajajaran yang masuk Islam setelah bertemu Raden Walangsungsang, lalu mendirikan Masjid Keramat Megu (tahun 900-an M) di Weru, Cirebon.

Misteri Sumur Kejayan di Megu Cilik (Situs Sumur Keton) dipercaya memiliki tuah dan airnya tak pernah kering, yang merupakan bagian dari jejak sejarah Ki Gede Megu.

Sejarah Ki Gede Megu (Ki Buyut Atas Angin)Utusan Pajajaran:

Ki Gede Megu awalnya adalah utusan Prabu Siliwangi untuk menjemput Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana).

Masuk Islam: Setelah bertarung dan mengakui kesaktian Raden Walangsungsang, ia masuk Islam dan membangun wilayah Megu serta mendirikan masjid kramat.

Masjid Kramat Megu: Didirikan sekitar tahun 900-an masehi dengan bantuan Wali Songo.

Keunikannya terletak pada pintu masuk berukuran rendah (90 cm x 60 cm) yang bermakna ajaran kepatuhan dan rukun iman.Kuncen: Juru kunci masjid harus keturunan langsung Ki Buyut Megu.

Misteri Sumur Kejayan / Sumur KetonLokasi: Berada di Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Keunikan/Misteri: Sumur keramat ini diyakini memiliki tuah, dan dipercaya airnya tidak pernah surut.

Petilasan: Warga setempat mengkeramatkan tempat ini sebagai situs sejarah peninggalan ilmu dan perjuangan Ki Gede Megu.

Tradisi: Di area ini sering dikaitkan dengan penghormatan budaya lokal, termasuk ritual tahunan di sekitar situs, seperti Panjang Jimat. (Gunawan)