Beranda CIAYUMAJAKUNING Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Desa Kesugengan Kidul yang Ke 45, Membangkitkan Tradisi Adat Istiadat Budaya Desa Sekaligus Gelar MapagSri

Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Desa Kesugengan Kidul yang Ke 45, Membangkitkan Tradisi Adat Istiadat Budaya Desa Sekaligus Gelar MapagSri

Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Desa Kesugengan Kidul yang Ke 45, Membangkitkan Tradisi Adat Istiadat Budaya Desa Sekaligus Gelar MapagSri

Kabupaten Cirebon,DermayuPost.Com,- ” Pemerintah Desa(pemdes) Kasugengan Kidul Kecamatan Depok  Kabupaten Cirebon baru saja menggelar kegiatan Syukuran Serta  melestarikan adat istiadat budaya yang selama ini vakum dalam rangka HUT Desa Kasugengan Kidul yang ke 45 serta menggelar  Mapag Sri sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.

Acara ini juga menjadi ajang untuk menyambut Perayaan hari jadi desa Kasugengan Kidul  serta langkah rutin dalam mempererat tali silaturahmi antar masyarakat dan pemerintah desa.

Turut hadir dalam acara Kuwu Kasugengan Kidul Giantoro,Tokoh adat desa,sesepuh desa,perangkat desa,BPD,karangtaruna,RT,RW,serta warga masyarakat desa Kasugengan Kidul. Acara di gelar dengan meriah dan diadakan doa bersama dan tahlil dengan khidmat.acara bertempat di halaman kantor desa Kasugengan Kidul kecamatan Depok kabupaten cirebon.Jumat 3 April 2026

Dalam rangka memperingati hari jadi desa,Ke 45 dengan mengikuti lomba membuat nasi tumpeng. Tinggi nasi tumpeng yang dibuat adalah 50 cm dan diameter nasi tumpeng 35 cm. 

Arak-arakan tumpeng dalam hari jadi desa adalah wujud syukur dan pelestarian budaya, di mana tumpeng kerucut melambangkan gunung suci/kesuburan. Prosesi ini melibatkan pengarak 7 blok desa, menandakan gotong royong, yang diiringi musik tradisional, kemudian dibagi rata (berkat) kepada warga setelah didoakan sesepuh untuk keharmonisan.

Tumpeng diarak berkeliling desa secara bergantian atau beriringan oleh perwakilan warga (pemuda/sesepuh) dari 7 blok tersebut. 

Pengarakan diiringi musik tradisional seperti angklung.Titik Kumpul & Doa: Arak-arakan berakhir di satu titik pusat (balai desa/lokasi adat). 

Tumpeng disusun dan didoakan oleh pemuka adat/sesepuh desa sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi/keberkahan.Pembagian (Bagi Berkat): Setelah didoakan, 7 tumpeng tersebut dibagikan kepada warga perwakilan dari 7 blok untuk dimakan bersama-sama sebagai simbol keharmonisan dan persatuan masyarakat.Tradisi ini merawat nilai luhur gotong royong dan menjadi sarana edukasi budaya kepada generasi muda.

Kegiatan hari jadi desa ke 45 Kasugengan Kidul di barengi dengan MapagSri,Pemerintah desa di bawah kepemimpinan Kuwu Giantoro menegaskan, bahwa kebangkitan kembali Mapag Sri menjadi momentum penting untuk menjaga identitas budaya masyarakat desa Kasugengan Kidul kecamatan Depok kabupaten Cirebon.

Warga, tokoh masyarakat, dalang, serta unsur muspika hadir memanjatkan doa bersama sembari menikmati tumpeng sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Panitia pelaksana, Kuwu Giantoro menyatakan bahwa tradisi ini harus terus diwariskan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya Jawa-Sunda yang menjadi karakter kuat masyarakat desa.

Ia mengingatkan bahwa tanpa regenerasi aktif, tradisi leluhur berisiko memudar dan kehilangan posisinya di tengah derasnya perubahan zaman.

Rangkaian acara yang berlangsung hingga malam hari tersebut terbuka bagi pemilik sawah maupun masyarakat umum sebagai ajakan kolektif menjaga kelestarian adat sebagai pilar kekuatan desa,- ” Jelasnya

Acara ini juga menjadi ajang untuk menyambut pesta panen serta langkah rutin dalam mempererat tali silaturahmi antar masyarakat dan pemerintah desa.

Dengan semangat dan Antusias yang tinggi, masyarakat Desa Kasugengan Kidul  berkumpul untuk merayakan kekayaan budaya mereka.

Kegiatan ini bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga sebuah persembahan kepada alam dan tradisi leluhur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka,- ” Kata  Kuwu Giantoro

Kepala Desa Giantoro menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

“Kegiatan ini tidak hanya sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang melimpah, tetapi juga sebagai penghormatan kepada tradisi dan kearifan lokal yang telah mengakar dalam kehidupan kami sehari-hari,” ujarnya kepada media DermayuPost.Com

Acara di meriahkan dengan adanya pertandingan bola voli seni budaya wayang kulit Purwa asli dari desa kasuganan kidul kabupaten Cirebon.